Keistimewaan Umat Muhammad SAW; Revisi Hukum Berat

Pembuka

Banyak hal yang mungkin belum kita ketahui tentang keutamaan dan keistimewaan yang Allah berikan kepada umat Muhammad SAW. Dan apabila kita membuka lembaran sejarah syariat umat-umat terdahulu, kesan yang akan kita dapati adalah betapa beruntung menjadi umat Nabi Muhammad SAW. al-Quran menyatakan,

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“(yaitu) Orang-orang yang mengikuti Nabi (Muhammad) yang tidak bisa baca-tulis (Ummi). Namanya termaktub di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, Nabi yang menyuruh mereka mengerjakan kebaikan dan melarang mereka mengerjakan kemungkaran, menghalalkan segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk, membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya dan memuliakan, menolong dan mengikuti cahaya terang yang diturunkan kepadanya (al-Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’râf: 157)

Yang dikehendaki dengan belenggu atau beban di sini adalah segala bentuk hukum berat yang membelenggu dan membebani objek hukum sehingga seakan sulit bergerak. Artinya, Allah SWT tidak membebani hukum-hukum berat kepada segenap umat Muahammad SAW yang tidak mampu mereka pikul, sebagaimana yang Dia timpakan kepada para umat terdahulu. Semisal bangsa Israel yang oleh Allah SWT mereka ditimpakan syariat yang berat dan bahkan di luar kemampuan. Dalam al-Quran disebutkan,

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (286)

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 289)

Sebagai wawasan, berikut kami sertakan beberapa sampel hukum tersebut sebagaimana dalam kitab Khashâishul-Ummah al-Muhammadiyyah (hlm. 10-17) karya Prof. Dr. Sayid Muhammad Alawi al-Maliki:

Kewajiban Memotong Tempat Yang Najis

Apabila terdapat suatu najis di pakaian, maka mereka wajib memotong tempat tersebut sebagai bentuk ritual bersuci. Hal ini tidak cukup hanya dengan membasuhnya dengan air sebagiamana syariat umat Islam.

كَانُوا إِذَا أَصَابَهُمُ الْبَوْلُ قَطَعُوا مَا أَصَابَهُ الْبَوْلُ مِنْهُمْ، فَنَهَاهُمْ فَعُذِّبَ فِي قَبْرِهِ

Bangsa Israel, apabila mereka terkena kencing maka mereka berkewajiban memotong tempat najis kencing tersebut. Akan tetapi seseorang merlarang mereka sehingga ia diazab di kuburannya”. (Sunan Abû Dâwud, I/6)

Ulama berbeda pendapat mengenai bagian apa yang harus dipotong, apakah dulu anggota tubuh juga masuk dalam kategori ini atau hanya berlaku bila terkena pakaian saja? Sebagian ulama mengatakan, berkewajiban sekalipun pada anggota tubuh sebagaimana dalam riwayat lain, waw. Namun menurut al-Imam al-Qurthubi, yang dimaksud adalah pakaian saja tidak sampai pada kulit, sebab dulu pakain juga terbuat dari kulit. Pendapat ini didukung oleh Imam Ibnu Hajar al-‘Asqallani dalam Fathul-Bâri (I/268).

Nah, spesial untuk umat Muhammad r hukum ini tidak berlaku. Dalam syariat Islam, apabila terdapat perkara najis maka cukuplah bagi seorang Muslim membasuhnya dengan air, baik di pakaian, masjid atau tempat.

Tidak Kumpul Bareng dengan Orang Haid

Kaum Yahudi dulu tidak diperkenankan kumpul makan, duduk bersama bahkan tinggal seatap dengan wanita haid. Wanita haid dalam ajaran Yahudi diisolasi di ruangan khusus hingga masa haidnya tuntas (Tafsir Ibnu Katsîr, I/268). Adapun dalam ajaran Islam, wanita haid memiliki hak untuk tetap berkumpul saat makan, minum, tidur bersama kecuali bercumbu pada area pusar hingga lutut. Hal ini dipertegas oleh hadis,

عَنْ كُرَيْبٍ مَوْلَى ابْنِ عبَّاسٍ، قَالَ: سَمِعْتُ مَيْمُونَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ: «كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَضْطَجِعُ مَعِي وَأَنَا حَائِضٌ، وَبَيْنِي وَبَيْنَهُ ثَوْبٌ»

Sayidah Maimunah, istri Nabi r berkata: ‘Nabi r tidur bersamaku di saat aku haid, namun antara aku dan beliau terdapat pakaian”. (Shahîh Muslim, I/243)

Demikianlah Islam, hukum yang dimunculkan tetap menjaga hak, kemanusian dan kecenderungan manusia. Semua hukum pasti berkesuaian dengan fitrah manusia, sebab fitrah ini diciptakan adalah Allah SWT.

Sekalipun Tidak Sengaja Atau Salah Tetap Wajib Kisas

Demikianlah hukum yang diberlakukan oleh-Nya kepada Bani Israel. Hal ini tidak bisa ditebus dengan uang atau hukum yang sepadan lainnya. Hukum seperti ini diabadikan oleh al-Quran,

وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالْأَنْفَ بِالْأَنْفِ وَالْأُذُنَ بِالْأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ فَمَنْ تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (45)

Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (at-Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas)nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim”. (QS. Al-Mâidah: 45)

Lalu ayat ini direvisi untuk umat Islam, dalam ayat lain Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْأُنْثَى بِالْأُنْثَى فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ (178)

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu kisas berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka Barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, Maka baginya siksa yang sangat pedih.” (QS. Al-Baqarah: 178)

Bunuh Diri bila Bertaubat

Yaitu saat Bani Israel melakukan penyembahan kepada anak sapi, lalu Nabi Musa u memberikan tatacara bertaubat. Maka bagi yang tidak berdosa membunuh yang berdosa, al-Quran mengabadikan sejarah ini,

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنْفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوبُوا إِلَى بَارِئِكُمْ فَاقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ عِنْدَ بَارِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (54)

“Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah Menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu di sisi Tuhan yang menjadikan kamu; Maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 54)

Ini adalah salah satu cara bertaubat dari maksiat, bahkan juga dengan cara memotong lidah bagi yang berdosa dengan lidah, kemaluan bagi yang berzina dan, menculing mata bagi yang melihat wanita lain yang bukan mahram.

Sedangkan umat Muhammad SAW, Allah SWT mempermudah tatacara bertaubat bagi mereka. Bukan hanya itu, Allah juga mengatakan bahwa Dia adalah Zat Yang Maha Menerima taubat hamba-Nya. Allah Maha Gembira bila melihat ada hamba-Nya yang bertaubata kepada-Nya, bacalah ayat ini,

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا (110)

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisâ’: 110)

Terbukanya Aib Pendosa

Bani Israel bila melakukan perbuatan dosa atau maksiat maka di pintu rumahnya akan tertulis: orang ini melakukan ini, dan hukumannya melakukan ini dan ini. Hal ini dapat dilihat oleh siapapun baik orang umum ataupun khusus. (al-Mawâhib al-Ladunniyah, V/381)

Untuk umat Muhammad SAW, justru dianjurkan oleh Allah SWT untuk menutup aibnya itu. Demikian ini sebagaimana dalam hadis,

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا المُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ المُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولَ: يَا فُلاَنُ، عَمِلْتُ البَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

Setiap umatku diampuni dosanya kecuali muhajirîn, termasuk mujâharah ini adalah apabila seorang melakukan kesalahan di malam hari yang Allah tutup aibnnya di pagi hari, lalu dia bercerita: ‘Wahai fulan saya tadi malam melakukan ini dan itu’, padahal Tuhannya telah menutup aibnya itu, tapi di pagi harinya justru ia sebar-luaskan.” (Shahîhul-Bukhâri, no. 6069)

Omongan Buruk Hati Bisa Jadi Dosa

Kronologinya adalah, tidaklah Allah SWT mengutus seorang nabi atau rasul kecuali mereka menyampaikan bahwa kelak Allah SWT akan menghisab segala bentuk perbuatan dan bisikan hati. Namun umat-umat terdahulu mengkufuri semuanya, “Kami mendengar apa yang engkau perintahkan tapi tidak akan kami lakukan.”

Tapi umat Islam tetap taat atas perintah ini, “Kami mendengar, kami akan melakukan, pasrah atas hukum ini dan percaya penuh kepada Allah, para malaikat, para rasul dan kitab-kitab suci”. Lalu Allah memberikan bonus bahwa bisikan hati selama belum dilakukan maka tidak dihisab. Dalam al-Quran,

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ

Baginya kebaikan yang diperbuat, dan atasnya siksaan yang dilakukan.” (QS. Al-Baqarah: 289)

Kesalahan dan Lupa Adalah Dosa

Kesalahan dan lupa adalah manusiawi, namun hal ini bisa saja dicatat sebagai dosa bagi umat terdahulu. Demikian ini apabila dilakukan, maka hukumannya adalah beberapa menu makanan dan minuman yang pada mulanya halal bisa berubah status menjadi haram.

Kunjungi Kami di: Pena Daltim

Untuk umat Islam perbuatan yang dilakukan dalam keadaaan lupa, terpaksa atau atas dasar kesalahan yang tidak disengaja maka oleh Allah SWT tidak dicatat sebagai sebuah dosa.  Demikian ini berdasarkan pada hadis, bahwa Allah SWT tidak mentaklif segala perbuatan atas dasar lupa atau kekeliruan tanpa disengaja. (HR. Ahmad, Ibnu Hibbân, al-Hâkim, Ibnu Mâjah, ath-Thabarâni dan ad-Dâraquthni)

Dilarang Beraktivitas Saat Hari Raya

Yaitu pada hari Sabtu. Sebab, mereka diperintah untuk menghormatinya dengan memperbanyak ritual ibadah dan tidak menyibukkan diri dengan aktivitas lain. Oleh karena itu ketika mereka melanggar perintah ini dengan melakukan rutinitas mencari ikan -sebab ikan memang saat itu paling banyak didapati pada hari Sabtu, al-Quran mencela mereka dan mengatakan,

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ (65)

Dan sesungguhnya kamu telah ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina.” (QS. Al-Baqarah: 65)

وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لَا يَسْبِتُونَ لَا تَأْتِيهِمْ كَذَلِكَ نَبْلُوهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ (163)

Dan tanyakanlah kepada Bani Israel tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari selain Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.” (QS. Al-A’râf: 163)

Untuk umat Islam, Allah SWT merevisi hukum ini. Kaum Muslim diperkenankan melakukan aktivitas harian mereka di hari Jumat, sebagai hari raya pekanan mereka sesuai ketentuan dalam kitab fikih. Demikian ini berdasarkan ayat,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (9) فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (10)

(9) Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah mengingat kepada Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (10) Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 9-10)

Pandemi Sebagai Azab

Rasulallah SAW menyampaikan bahwa pandemi dahulu adalah kebinasaan yang Allah SWT kirim ke suatu bangsa dan umat terdahulu. Sebaliknya, bagi umat Islam ia adalah rahmat dan justru kematian syahid bagi korbannya. (lihat: al-Mawâhib al-Ladunniyyah, II/271 dan al-Khashâ’ish al-Nabawiyyah, III/221). Dalam hadis disebutkan,

أَتَانِي جِبْرِيلُ بِالْحُمَّى، وَالطَّاعُونِ، فَأَمْسَكْتُ الْحُمَّى بِالْمَدِينَةِ، وَأَرْسَلْتُ الطَّاعُونَ إِلَى الشَّامِ، فَالطَّاعُونُ شَهَادَةٌ لِأُمَّتِي، وَرَحْمَةٌ، وَرِجْسٌ عَلَى الْكَافِرِ

Datang kepadaku malaikat Jibril dengan membawa penyakit demam dan pandemi. Maka aku biarkan demam melanda kota Madinah dan aku kirim pandemi ke kota Syam. Pandemi adalah kematian syahid bagi umatku dan sebagi rahmat, sementara bagi orang kafir adalah kebinasaan.” (Musnad Ahmad, XXXVIII/388)

Keharaman Sebagian Makanan Bergizi

Hal ini adalah sebagai bentuk hukuman atas pelanggaran yang dilakukan oleh Bani Israel terhadap syariat yang diterapkan. Allah SWT berfirman,

فَبِظُلْمٍ مِنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ كَثِيرًا (160)

Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan kepada mereka (memakan makanan) yang baik-baik yang dahulunya diihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah.” (QS. An-Nisâ’: 160)

Allah SWT menjelaskan hal itu sebagaimana berikut: 1) setiap binatang yang memiliki kuku hukumnya haram, baik binatang ternak ataupun sejenis burung, dan 2) lemak binatang juga haram dikonsumsi kecuali lemak yang bercampur dengan tulang. (selengkapnya: Tafsir Ibnu Katsîr, II/200)

Sementara untuk umat Islam, segala makanan yang bergizi (baik dikonsumsi) Allah I menghalalkannya. Al-Quran mengatakan,

الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلَا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ (5)

“Pada hari ini dihalalkan bagimu makanan yang baik-baik. Makanan (sembelihan) Ahlikitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. Dan dihalalkan mangawini wanita beriman yang menjaga kehormatannya dan wanita Ahlikitab yang menjaga kehormatannya sebelum kamu. (Demikian ini) Bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka terhapuslah segala amal baiknya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi.” (QS. Al-Mâ’idah: 05)

Dan ayat,

“(yaitu) Orang-orang yang mengikuti Nabi (Muhammad) yang tidak bisa baca-tulis (Ummi). Namanya termaktub di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, Nabi yang menyuruh mereka mengerjakan kebaikan dan melarang mereka mengerjakan kemungkaran, menghalalkan segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk, membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya pasti memuliakan, menolong dan mengikuti cahaya terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung.”

Haramnya Harta Rampasan Perang

Umat dulu jika mendpatkan harta rampasan perang maka harta itu tidak boleh dimiliki. Ia harus dikumpulkan dan dipersembahkan kepada Allah SWT sebagai kurban. Oleh karena itu, apabila perang yang mereka lakukan diterima oleh oleh Allah maka harta yang dikumpulkan itu akan disambar oleh petir dan hangus. Al-Quran mengabadikan,

الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ عَهِدَ إِلَيْنَا أَلَّا نُؤْمِنَ لِرَسُولٍ حَتَّى يَأْتِيَنَا بِقُرْبَانٍ تَأْكُلُهُ النَّارُ قُلْ قَدْ جَاءَكُمْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِي بِالْبَيِّنَاتِ وَبِالَّذِي قُلْتُمْ فَلِمَ قَتَلْتُمُوهُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (183)

(yaitu) Orang-orang (Yahudi) yang mengatakan: ‘Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kami, supaya kami tidak beriman kepada seseorang rasul, sebelum dia mendatangkan kepada kami kurban yang dimakan api’. Katakanlah: ‘Sesungguhnya telah datang kepada kamu beberapa orang rasul sebelumku membawa keterangan-keterangan yang nyata dan membawa apa yang kamu sebutkan, maka mengapa kamu membunuh mereka jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (QS. Âlu ‘Imrân: 183)

Untuk umat Islam, Allah SWT menghalalkan harta rampasan perang untuk dimiliki berdasarkan aturan fikih yang sudah ada. Hal ini berdasarkan pada ayat,

فَكُلُوا مِمَّا غَنِمْتُمْ حَلَالًا طَيِّبًا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (69)

“Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Anfâl: 69)

Haramnya beribadah di Selain Gereja

Umat-umat terdahulu dilarang beribadah di tempat yang sembarangan. beribadah hanya boleh ditempatnya. Selagia ia tidak berada di tempat peribadatan maka beribadah tidak diperkenankan. Selama ia tidak beribadah ia tetap berkewajiban mengkadai. (Fathul-Bâri, I/436)

Dalam potongan hadis disebutkan (Lihat: Shahîhul-Bukhâri, no. 636),

وَلَمْ يَكُنْ أَحَدٌ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ يُصَلِّي حَتَّى يَبْلُغَ مِحْرَابَهُ

Tidak seorangpun di antara para nabi yang hendak melakukan shalat kecuali mereka sampai kepada mihrab masing-masing.”

Sedang untuk umat Muhammad SAW, hal ini tidaklah dipersulit. Lihatlah hadis ini,

أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ نَبِيٌّ مِنْ قَبْلِي، جُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا، وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ، فَيُرْعَبُ الْقَوْمُ مِنِّي عَلَى مَسِيرَةِ شَهْرٍ، وَأُرْسِلْتُ إِلَى الْأَبْيَضِ وَالْأَسْوَدِ، وَأُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمُ، وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ مِنْ قَبْلِي، وَقِيلَ لِي: سَلْ تُعْطَهْ، فَاخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي، فَهِيَ نَائِلَةٌ مِنْهُمْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ مَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا

“Saya diberi lima hal yang tidak diberikan oleh Allah kepada nabi selainku: 1) dijadikan untukku bumi ini sebagai tempat sujud dan suci, 2) aku ditolong oleh Allah dengan ketakkutan musuh, maka mereka takut sebulan sebelum perang, 3) aku diutus kepada semua bangsa, 4) dihalalkan bagiku harta rampasan perang yang dulunya berstatus haram, 5) aku diminta oleh Allah: ‘Mintalah maka kamu akan diberikan’. Maka aku lebih memilih permintaanku kelak sebagai syafaat bagi segenap umatku. Dan itu insya-Allah akan diperoleh oleh siapapun yang tidak mati menyekutukan Allah SWT.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad dan lainnya)

Bersuci Harus Dengan Air

Hukum ini berlaku bagi umat dahulu. Dalam menghilangkan hadas, air adalah satu-satunya alternatif untuk bersuci, selain itu tidak sah. Jika tidak sah maka beribadah akan ditunda hingga air itu ada.

Untuk umat Muhammad SAW, hal ini dipermudah dengan keberadaan opsi kedua setelah air diyakini tidak ada, yaitu debu dengan melakukan tayamum. Lagi pula, sebagaimana hadis di atas, tanah berhukum suci bagi umat Nabi Muhammad SAW. Al-Quran menyatakan,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (6)

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan usaplah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki. Dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan, atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Mâidah: 06)

Penutup

Setelah kita membaca fakta sejarah ini, pasti kita merasa senang tapi juga susah. Senang karena kita patut berbangga diri bahwa kita ditakdirkan oleh Allah SWT untuk menjadi umat Muhammad SAW dengan kemudahan menjalankan syariatnya jika dibanding dengan umat-umat dahulu. Tapi juga susah, sebab sekalipun syariat ini mudah dan sederhana dilakukan, kita masih saja merasa malas dan bahkan ada yang –wal-‘iyâdz bil-Lâh- meninggalkan kewajiban agama ini. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana seandainya syariat Bani Israel ini diberlakukan pada saat ini bagi umat Islam, apakah masih ada orang yang welcome beragama? Ya Allah ampunilah kami, beri kami kekuatan untuk konsisten melakukan perintah-perintah-Mu dan menjauhi segala laraangan-Mu. Amin.

*Disampaikan oleh Lora Fawaidul Hilmi Abdul Halim pada malam Jumat 10 April 2020 M/16 Syaban 1441 H di Pondok Pesantren Bustanul Ulum Daltim Mlokorejo

Share Kebaikan!:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Assalamualaikum
1
Butuh bantuan?
Ada yang bisa kami bantu?