Kemauan Tanpa Usaha; Goblog!

Hati-hati dengan omongan orang: “Tenang saja, sekalipun kamu bermaksiat sebanyak apapun maka Allah SWT pasti akan mengampuni. Sebab Dia adalah Zat Yang Maha Pengasih, Maha Pengampun dan Maha Penyayang”. Kata-kata seperti ini sekalipun benar isinya namun lari dari konteksnya. Orang yang mengatakan kalimat “indah” semacam ini bisa jadi dicap “Goblog” oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam hadis disebutkan,

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْأَحْمَقُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا، وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ الأَمَانِيِّ

Orang cerdas adalah orang yang bisa menaklukan hawa-nafsunya dan memeprsiapkan diri demi kehidupan setelah mati. Orang bodoh adalah orang yang selalu menuruti kemauan nafsunya lalu memberi harapan palsu kepada Allah SWT”. (HR. Ahmad 17123, Ibnu Majah 4260, al-Hakim 191 dan lain-lain)

Artinya, orang bodoh adalah orang yang apabila bermaksiat dan menuruti hawa-nafsunya, maka dia memberi harapan palsu kepada Allah SWT dan berkata: “Tenang saja, terus maksiat tidak apa-apa. Kan Allah Maha Pengampun terhadap dosa-dosa hamba-Nya”. Sebab harapan yang benar seharusnya disertai dengan amal yang benar. Dengan demikian, berharap dosa kita diampuni oleh Allah I berarti juga kita berusaha menjauhi larangan-Nya.

Baca juga: Keistimewaan Umat Muhammad SAW; Revisi Hukum Berat

Sama dengan seperti ini, seorang misalkan bercita-cita menjadi ilmuwan, saintis, kiai, ulama atau ustaz, namun orang tadi tidak bersungguh-sungguh dalam belajar dan mempelajari bidang yang dimaksud. Lalu dengan santai bilang: “Sudahlah, Allah itu Maha Mengetahui dan Maha Kuasa. Banyak di antara wali dan ulama yang oleh Allah langsung ditransfer ilmu-ilmu”. Kira-kira secara akal apakah orang ini akan terwujudkan cita-citanya?

Atau di masa seperti sekarang ini, kita ingin terhindar dari Pandemi Korona tapi kita tidak melakukan anjuran dokter ahli, baik dengan memakai masker, tidak keluar rumah, eh malah berhubungan langsung dengan orang yang positif terjangkit. Tapi ajaibnya kita bilang: “Sudahlah tidak perlu khawatir. Sekalipun saya melakukan kontak langsung dengan korban Korona, Insya-Allah tidak akan tertular. Sebab Allah-lah yang Maha Kuasa menularkannya. Kalau Allah berkehendak penyakit ini tidak akan menular kok”. Nah, kira-kira secara akal sikap kita yang seperti ini lebih potensi terjangkit ataukah tidak ya?

Baiklah kalau paham. Kita kembali ke awal pembahasan. Sikap seperti ini justru akan memperparah keadaan dan harus diasupi ayat-ayat yang “menakutkan” biar cepet tobat. Bukankah Allah mengingatkan: “Dan manusia hanya dibalas sesuai usahnya”  (QS. An-Najm: 39), “Kalian akan dibalas atas apa yang kalian perbuat” (QS. At-Tahrim: 07), “Sesungguhnya orang beramal baik berada di surga dan orang yang berbuat buruk ada di neraka” (QS. Al-Infithar: 13-14)

*Transkip Kajian Kitab Bidayatul-Hidayah lil-Ghazali oleh Lora Fawaidul Hilmi Abdul Halim

Share Kebaikan!:

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Assalamualaikum
1
Butuh bantuan?
Ada yang bisa kami bantu?