Konsep Zakat Firah; Wajib Tahu! (Bag. 1)

Berikut ini adalah cuplikan kajian ringan seputar Zakat Fitrah dalam Mazhab Syafi’i yang kami tulis dari kitab Taqrîrâtus-Sadîdah fil-Masâ’il al-Mufîdah (I/418-422) karya Habib Hasan bin Ahmad al-Kâf Madinah. Kami sistem dengan tanya jawab supaya lebih mudah dipahami dan komunikatif.

Kami jadikan tema ini dua tulisan, tulisan kali ini adalah membahas, 1) dalil Zakat Fitrah, 2) waktu-waktu Zakat Fitrah ditunaikan, 3) siapakah yang wajib berzakat, 4) apakah jenis Zakat yang harus ditunaikan, 5) Nominal yang harus dikeluarkan dan, 6) hal penting yang tidak boleh dilalaikan. Bagi para pembaca sekalian, bisa menanyakan hal-hal yang belum dipaham seputar zakat di kolom komentar.

Apa Dalil Kewajiban Zakat Fitrah?

Di antarnya adalah, sebagiamana disebutkan dalam hadis,

«فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، فَمَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ» {سنن ابن ماجه (1/ 585)}

Rasulullah mewajibkan Zakat Fitrah supaya ditunaikan. Zakat Fitrah adalah sebagai penyuci bagi yang melaksanakan puasa dari sesuatu yang tidak berguna dan segala kotoran, dan sebagai makanan bagi mereka yang miskin. Maka barang siapa menunaikan zakat ini sebelum pelaksanaan shalat Id maka disebut zakat yang diterima. Tapi apabila ditunaikan setelah shalat Id maka disebut sedekah” (HR. Ibnu Majah, I/585)

Kapan Zakat Firah ditunaikan?

Zakat Fitrah merupakan keharusan yang wajib ditunaikan sekaligus salah satu pilar lima rukun agama Islam, disebut juga dengan Zakat Badan. Adapun waktu mengeluarkan Zakat Fitrah ada lima pembagian, dengan hukum yang berbeda-beda:

Pertama, waktu wajib. Apabila seorang Muslim menjumpai bulan Ramadhan dan bulan Syawal -walaupun sebentar, maka berkewajiban mengelurakan Zakat Fitrah. Demikian ini saat malam hari raya Idul Fitri.

Keterangan: kewajiban zakat fitrah, meninjau waktu, disebabkan oleh puasa Ramadhan dan hari raya Idul Fitri. Hitungan hari dalam Islam dimulai setelah terbenamnya matahari.

Kedua, waktu utama. Akan lebih baik bila Zakat Fitrah dikeluarkan pada hari raya Idul Fitri setelah waktu fajar tiba dan sebelum pelaksanaan shalat Id. Dan akan lebih utama bila ditunaikan setelah shalat subuh.

Ketiga, waktu jawâz. Seorang sudah diperbolehkan mengeluakan Zakat Fitrah mulai dari tanggal satu bulan Ramadhan. Adapun syarat-syaratnya kami sertakan di bawah.

Keempat, waktu makruh. Berhukum makruh apabila Zakat Fitrah ditunaikan setelah pelaksanaan shalat Id hingga terbenamnya matahari tanggal 1 Syawal. Kecuali ada maslahat, seperti pengeluaran Zakat Fitrah menunggu kerabat atau fakir-miskin yang shalih.

Kelima, waktu haram. Sekalipun zakat ini wajib ditunaikan, ia bisa saja berstatus haram karena waktu pelaksanaan yang tidak tepat. Yaitu, bila zakat ditunaikan setelah hari raya (dalam istilah ini, 1 Syawal adalah hari raya yang dimaksud, bukan yang lain) maka hukumnya haram. Kecuali ada uzur, maka diperkenankan sekaligus  menjadi qada’. Uzur di sini semisal, hartanya sudah berkewajiban ditunaikan tapi belum bisa diambil saat ini atau contoh lain, harta sudah ada tapi yang berhak menerima belum juga ketemu.

Keterangan: harta tidak harus uang.

Siapakah yang Berkewajiban?

Yang berkewajiban menunaikan adalah setiap Muslim merdeka (bukan budak) yang memiliki makanan pokok pada saat hari raya Idul Fitri dan malam hari raya. Kewajiban ini berlaku kepada seluruh Muslim, baik laki-laki atau perempuan, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa hingga yang sudah tua, juga kepada siapapun yang memiliki budak.

Zakat Fitrah di sini berstatus wajib dikeluarkan apabila:

  1. Zakat Fitrah tersebut sudah melebihi dari nafkah keluarga yang harus ditunaikan. Adapun urutan nafkah yang dimaksud adalah kepada dirinya, istri dan pelayannya (kalau ada), anak-anak yang masih kecil, ayah dan nasab atasannya dan terakhir ibu.
  2. Zakat Fitrah melebihi dari kebutuhan untuk membayar hutang yang dimliki, sekalipun belum jatuh tempo, demikian ini menurut Imam Ibnu Hajar al-Haitami.
  3. Zakat Fitrah melebihi biaya untuk menghidupi pelayan dan untuk kebutuhan rumah yang dianggap layak huni.

Sehingga bila Zakat Fitrah yang akan dikeluarkan masih sangat perlu untuk memenuhi kebutuhan di atas, statusnya tidak lagi wajib.

Berapakah yang Harus Dikeluarkan?

Nominal Zakat Fitrah yang wajib dikeluarkan adalah, satu sha’ per-orang atau empat mud Nabi –shallal-Lâhu ‘alaihi wa salla. Berapakah 1 sha’? Sama dengan kurang-lebih 2,75/3 kilogram, akan lebih baik bila yang dikeluarkan 3 kilogram lebih.

Baik, di sini juga perlu diutarakan, ada kaedah demikian: “Setiap orang yang wajib kita nafkahi maka juga berkewajiban untuk ditunaikan zakatnya,” namun ada pengecualian secara teks (manthûq) dan pemahaman (mafhûm):

  1. Ibu, sekalipun wajib dinafkahi tapi kita tidak berkewajiban mengeluarkan zakatnya, sebab ibu adalah kewajiban ayah. Begitupun budak yang kafir, kerabat yang kafir dan istri yang kafir.
  2. Budak yang kabur, nafkahnya tidak wajib kita penuhi namun wajib ditunaikan zakatnya.

Ini juga penting! Apabila suami tidak mampu menunaikan zakat-nya istri maka suami tidak berkewajiban dan begitupun bagi istri itu sendiri. Tapi bila mau, bagi istri disunahkan mengeluarkan zakat.

Baca Juga: 13 Tata Cara Berwudhu yang Melebur Dosa-dosa

Apa Jenis Zakat Fitrah yang Dimaksud?

Adalah makanan pokok yang paling kaprah digunakan di daerah tersebut. Sehingga dalam hal ini, uang tidak bisa dijadikan Zakat Fitrah.

Keterangan: menunaikan zakat-nya anak yang tidak lagi wajib dinafkahi seperti anak balig, sudah tidak dianggap cukup untuk menggugurkan kewajiban, kecuali sudah mendapatkan izin dari anak tersebut.

Sedangkan orang-orang yang wajib dinafkahi, maka dalam menunaikan zakat mereka, sudah tidak lagi diperlukan izin. Seperti, anak yang belum balig atau istri.

Hal Penting Lain yang Mungkin Sering Dilalaikan?

Pict. Makan Pokok Suatu Daerah yang Menggunakan Gandum, burr.

Baik, berikut adalah hal-hal penting lain yang tidak boleh dilupakan:

Pertama, niat. Wajib dilakukan sebagai pembeda antara zakat dan sedekah biasa pada umumnya.

Sighatnya adalah: “Saya tunaikan zakat dari hartaku,” atau “Ini adalah fardu zakat harta saya”.

Waktunya adalah saat didistribusikan kepada fakir-miskin atau kepada wakil zakat. Dan diperkenankan mendahulukan niat sebelum diberikan kepada fakir-miskin atau wakil, dengan syarat zakat sudah dibedakan dengan yang lainnya.

Boleh bagi pihak penguasa mengambil secara paksa Zakat Fitrah yang wajib dikeluarkan, sekalipun yang berkewajiban belum sempat niat. Adapun yang meniatkan adalah Imam (penguasa).

Kedua, dalam persoalan Ta’jiluz-Zakat, mendahulukan penegeluaran zakat. Boleh dilakukan sebelum jatuhnya waktu yang ditentukan, namun harus memenuhi beberapa syarat:

  1. Apabila sudah berkewajiban menunaikan zakat (sebagaimana yang dijelaskan di muka), maka diperbolehkan mendahulukan pengeluaran zakat.
  2. Yang menunaikan zakat harus memenuhi syarat penunai zakat hingga waktu yang ditentukan (sampai tanggal 2 Syawal).
  3. Penerima zakat harus memenuhi syarat penerima hingga waktu yang ditentukan, dalam hal ini adalah hingga tanggal 2 Syawal. Sebab bila ia sudah kaya sebelum batas akhir di atas maka dia tidak lagi berhak menerima zakat dan zakat wajibnya penunai tidak sah, harus berzakat lagi.

Dan boleh bagi yang melakukan Ta’jiluz-Zakat, apabila ternyata syarat di atas tidak terpenuhi, mengambil lagi Zakat Fitrah yang dia tunaikan dari penerima zakat. Dan bagi yang menerima zakat wajib memakluminya.

Bersambung…

SantrehMloko

Share Kebaikan!:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Assalamualaikum
1
Butuh bantuan?
Ada yang bisa kami bantu?