Makna Puasa Menurut Al-Quran

﴿یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَیۡكُمُ ٱلصِّیَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ﴾ [البقرة ١٨٣]

“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan bagi kalian puasa. Sebagaimana diwajibkan pula bagi umat-umat sebelum kalian. Demikian itu supaya kalian bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah 183)

Tafsir Ayat

Secara bahasa puasa berarti menahan. Pandangan agama, puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Dalam keadaan tahu bahwa dirinya sedang berpuasa dengan niat.

Dalam firman-Nya, (كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكُم) sebagaimana diwajibkan kepada umat-umat sebelum kalian. Kata “sebagaimana” di sini ada dua pendapat.

1- Kata “sebagaimana” kembali kepada kewajiban puasa. Berarti memaknainya demikian, wahai orang-orang beriman diwajibkan puasa bagi kalian. Kewajiban puasa itu sebagaimana kewajiban umat-umat terdahulu sebelum kalian.

Dengan demikian, kewajiban puasa sudah disyariatkan oleh Allah swt sejak masa Nabi Adam as hingga Nabi Muhammad saw.

2- Kata “sebagaimana” kembali pada masa dan waktu berpuasa. Pendapat ini lemah. Sebab berarti memaknainya seperti ini, wahai orang-orang beriman diwajibkan bagi kalian berpuasa. Waktu dan durasinya sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian. Menurut kaedah bahasa Arab ini tidak boleh dan lemah.

Puasa Diwajibkan

Dilihat dari sisi lain ayat ini, ulama banyak memberikan komentar:

1- Bahwa puasa Ramadhan sudah diwajibkan oleh Allah swt kepada kaum Yahudi dan Nashrani. Orang Yahudi meninggalkannya. Dan hanya puasa sehari selama setahun. Kata mereka puasa sehari yang mereka lakukan adalah hari di mana Allah swt menenggelamkan Fir’uan. Ini jelas bohong. Sebab kata Nabi saw itu terjadi pada hari Asyura bulan Muharram.

Orang Nashra. Mereka juga berpuasa di Ramadhan. Namun karena sangat panas pada bulan itu. Maka diubahlah waktu berpuasa oleh para pendeta. Sebagai gantinya, mereka tambah waktunya menjadi 40 hari. Lalu 47 hari. Lalu karena tanggung jadilah 50 hari.

2- Mereka Yahudi dan Nashrani, sebelum berpuasa, mewajibkan diri puasa sehari sebelum Ramadan dan sehari setelah Ramadhan. Ini katanya sebagai jaminan. Oleh karena itu, Islam memakruhkan puasa model demikian (Yaumu Syakk).

3- Kata “sebagaimana” mengharamkan makan, minum, bersetubuh setelah tidur malam. Sebab demikianlah keadaan umat-umat terdahulu. Namun oleh ulama, pendapat ini direvisi dengan ayat,

(أُحِلَّ لَكم لَيْلَةَ الصِّيامِ الرَّفَثُ إلى نِسائِكُمْ﴾ [البقرة: ١٨٧]

“Diperbolehkan di malam hari melakukan hubungan badan dengan istri-istri kalian.”

Baca juga: Mari Berziarah Kubur

Puasa dan Ketakwaan

 Dalam firman-Nya, لَعَلَّكم تَتَّقُونَ supaya kalian bertakwa. Ada beberapa penafsiran:

1- Berpuasa dapat mengantarkan kita pada takwa. Sebab dengan berpuasa syahwat dan nafsu kita melemah. Hal ini akan memudahkan kita untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Sebab puasa adalah menahan kemauan perut dan kemaluan. Jika sudah demikian, mau berbuat maksiat kita sudah malas. Dan demikian itu dapat menambah ketakwaan kita.

2- Dengan berpuasa ketakwaan akan semakin kuat. Itulah arti لعل.

3- Arti lainnya, supaya -dengan berpuasa dan menahan syahwat- kalian dapat bertakwa kepada Allah swt. Kalau orang sudah senang terhadap sesuatu (syahwat) maka menghindarnya akan semakin sulit. Maka dengan berpuasa akan mudah kita menghindarnya. Dan itu mengantarkan kita pada takwa kepada Allah swt.

4- Dengan berpuasa akan menyebabkan kita sama seperti orang-orang yang bertakwa. Sebab puasa adalah syiar orang yang bertakwa.

Mlokorejo, 19 – Mei – 2019 M. | Kunjungi juga annajahsidogiri.id

Share Kebaikan!:

Mungkin Anda juga menyukai

4 Respon

  1. Binkhozin berkata:

    Artikelnya tentang puasa, tapi gambarnya orang sedang makan?

  2. Nuris syam berkata:

    اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلغنا رمضان ….امين

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Assalamualaikum
1
Butuh bantuan?
Ada yang bisa kami bantu?