Prof. Dr. Sayid Muhammad Alawi al-Maliki al-Hasani, Siapakah Beliau?

Semua orang mengkin sudah pernah mendengar nama tokoh ini. Ya, beliau adalah ulama besar dan berpengaruh bagi Ahlusunah wal Jamaah abad 21. Haul-nya dirayakan setiap tanggal 15 Ramadhan oleh semua murid dan pecintanya di seluruh penjuru dunia. Dalam tulisan singkat ini, kami perkenalkan sosok pakar hadis dunia yang disegani oleh para ulama dan umara dunia ini. Kami mengutip dan meringksanya dari kitab ensiklopdia ulama abad 14 berjudul, Natsrul-Jawahir wad-Durar fi Ulamail-Qarni ar-Rabi’ ‘Asyar hlm. 2037 karya Syekh Dr. Yusuf al-Mar’asyi, dosen fakultas Hadis dan Fikih Universitas Islam Bairut, Lebanon.

Ulama besar abad ke-14 Hijriyah, al-Musnid al-Muhaddist Prof. Dr. Muhammad al-Hasan bin Alawi bin Abbas bin Abdul  Aziz bin Abbas bin Muhammad al-Idrisi al-Maliki al-Hasani al-Makki. Beliau dilahirkan di al-Qarârah dekat Bâbus-Salam, Mekah, Saudi Arabia pada 1367 H, ulama keturunan Nabi Muhammad SAW  yang dikenal dengan keilmuan yang tinggi dan disegani. Kakeknya, Sayid Abbas adalah seorang Kadi Mekah di masanya, Guru Besar dan khatib di Masjidil-Haram. Ayahnya, Sayid Alawi juga seorang alim dan Guru Besar di Masjidil-Haram.

Proses Belajar

Pertama kali belajar ilmu agama kepada ayahnya sendiri Sayid Alawi semenjak kecil. Kepadanya Muhammad kecil mengaji al-Quran, Nahwu, Fikih, Hadis, Tafsir, Manthiq, Kutubus-sittah dan kitab-kitab lainnya.

Lalu melanjutkan studinya di Madrasah Al-Falah yang dikenal sebagai perguruan yang melahirkan banyak para ulama. Di madarasah ini, beliau juga mengaji kepada sang ayah dan beberapa ulama Mekah lainnya. Beliau juga belajar kepada beberapa guru besar, seperti Syekh Muhammad Nur Saif (w. 1403 H), Syekh Muhammad al-‘Arabi at-Tubbani (w. 1390 H) dan Syekh Abdullah bin Said al-Lahaji (w. 1410 H).

Seusai menamatkan studi di Madrasah ini, Sayid Muhammad melanjutkan pembelajarannya ke Universitas  al-Azhar Kairo, Mesir. Beliau belajar ke beberapa ulama al-Azhar seperti Sayid Shalih al-Jifri, al-Hafidz at-Tijani (w. 1398) dan lain sebagainya hingga mendapat gelar doktoral dari pusat modersi studi Islam dunia ini.

Lalu tidak sampai di situ, beliau meneruskan studinya ke Pakistan dan India. Belajar kepada Syekh Muhammad Yusuf al-Bannuri (w. 1397 H), al-‘Allamah Dzafar at-Tahanawi (w. 1394 H), Syekh Muhammad Yusuf al-Kandahlawi (w. 1384 H), Syekh Muhammad Idris al-Kandahlawi (w. 1394 H) dan lain sebagainya.

Baca Juga: Kemauan Tanpa Usaha; Goblog!

Beliau juga berguru kepada beberapa ulama Suriah, Turki, Indonesia, al-Jazair dan Libya. Demikian ini atas dasar motivasi sang ayah, Sayid Alawi.

Di Madinah beliau juga tidak ketinggalan, guru-guru beliau di sana adalah Syekh Ibrahim al-Khathni (w. 1389 H), Syekh Muhammad Zakaria al-Kandahlawi (w. 1407 H), Syekh Hamid Namnakani (w. 1407 H), Syekh Mahmud ath-Thirazi (w. 1412 H), al-Muqri Abbas In’am Khaujah (w. 1407 H) dan lain sebagainya.

Proses Mengajar dan Menulis Karya

Setelah begitu lama dalam melakukan rihlah ilmiah, sang ayah memotivasi Sayid Muhammad untuk mengajarkan beberapa kitab sebagaimana yang sudah dia peroleh semasa proses belajar. Pasca tiga hari dari kewafatan sang ayah, beliau diminta oleh beberapa ulama Mekah untuk menggantikan posisi ayahnya sebagai tenaga pengajar di Masjidil-Haram. Hal ini didukung oleh para guru besar Mekah seperti Syekh Hasan Muhammad al-Masysyath, Syekh Abdullah bin Said al-Lahaji, Syekh Abdullah Ahmda Dardum, Syekh Zakaria Bila, Syekh Yasin Isa al-Fadani, Syekh Muhammad Amin al-Kutbi, Syekh Muhammad Nur Saif dan Syekh Ibrahim Fathoni.

Beliau juga ditunjuk sebagai dosen di Kulliyatusy-Syariah pada 1390 H di Universitas Malik Abdul-Aziz dan pengisi acara di salah satu radio kenamaan di Saudi Arabia.

Aktifitas utama beliau adalah berdakwah. Dari majelis ilmu yang beliau asuh, lahirlah banyak cendekiawan Muslim yang berpengaruh, termasuk di Indonesia. Beliau juga sering diundang untuk mengisi konferensi dan seminar ilmiah baik di dalam atau luar negeri. Di sela-sela kunjungan dakwahnya ke berbagai pelosok dunia, beliau juga menyempatkan untuk membuka pesantren-pesantren dan lembaga keagamaan. Sebagai ulama pakar, beliau juga memberikan kontribusinya pemikiran untuk khazanah kepustakaan Islam lewat karya ilmiahnya.

Sebagaimana yang pernah beliau sampaikan dalam kitab “ath-Thali’ as-Sa’id” (hlm. 07), bahwa guru beliau mencapai kurang lebih 200 guru. Karyanya pun cukup banyak, baik yang sudah tercetak atau yang masih berbentuk naskah.

Beberapa buku ditulis untuk mengupas untuk kepribadian beliau, di antaranya pernah ditulis oleh KH. Ihya Ulumiddin dan KH. M. Najih Maimoen.

Beliau wafat pada 15 Ramadhan 1425 H, Semoga Allah merahmati beliau dan memberkati kita semua.

Share Kebaikan!:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Assalamualaikum
1
Butuh bantuan?
Ada yang bisa kami bantu?